Parit Bekoan PT HSJ Jebol, 41 HA Padi Masyarakat Mati Terendam Air

Lahan Terendam Air
DETEKSI.co - Negeri Lama, Pada bulan November 2018 lalu, parit bekoan di perkebunan Kelapa Sawit milik PT Hari Sawit Jaya (HSJ) di desa Selat Besar Kecamatan Bilah hilir jebol.  Akibatnya, pemukiman dan 41 hektar padi yang baru tanam di sawah masyarakat mati akibat terendam air yang meluap dari parit bekoan itu. Sejauh ini, manajemen PT HSJ menolak memberikan ganti rugi seperti yang dituntut masyarakat.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara masyarakat, manajemen PT HSJ, Camat dan unsur Muspika setempat, di kantor Camat Bilah hilir Jum,at (11/1).

Dalam pertemuan itu, seorang petani bermarga Sihombing mengemukakan bahwa PT HSJ tidak memiliki itikad baik untuk mengganti rugi tanaman padi masyarakat yang terendam air dari parit bekoan PT HSJ.

" Kalau dijumpai Hansip, Hansip bilang dia masih punya atasan. Dijumpai asisten, asisten bilang saya masih punya atasan. Entah siapa mau dijumpai orang ini" terangnya.

Padahal kata Sihombing, ganti rugi yang mereka tuntut nilainya sangatlah wajar yakni Rp 5 juta per hektarnya. 

"Kami cuma minta lima juta per hektarnya. Itu pun ada yang sawahnya cuma 5 rante, 10 rante dan setengah hektar" katanya. 

Sementara itu, Wakapolsek Kecamatan Bilah Hilir Iptu K Manurung dalam pertemuan itu meminta agar musyawarah dilakukan tidak dengan emosi. Dia berharap ada jalan keluar dari pertemuan itu.

" Misalnya tadi masyarakat meminta ganti rugi lima juta, kan masih bisa tawar menawar. Pertemuan ini harus ada solusi. Capek kita begini saja tak ada hasilnya" katanya.

 Sementara itu, Manajer PT HSJ Frank SE Nadeak mengatakan, setelah peristiwa jebolnya parit bekoan itu, pihaknya telah berniat baik dengan melakukan pencucian parit bekoan untuk memperlancar saluran air ke sungai terdekat, walaupun ada masyarakat yang berupaya menghalang-halanginya.

Mengenai ganti rugi, pihaknya mengaku tidak dapat memberikan ganti rugi sebagaimana tuntutan masyarakat. 

" Namun  kami dari perusahaan tetap membuka diri dalam program-program Coorporate Social Responsibilty (CSR)" sebutnya.

Camat Bilah Hilir Bangun Siregar saat dikonfirmasi usai pertemuan menerangkan, peristiwa jebolnya benteng parit bekoan milik PT HSJ yang terjadi pada bulan November 2018 itu mengakibatkan air meluap ke pemukiman masyarakat dan areal persawahan yang baru saja ditanami padi oleh masyarakat.

Saat kejadian, dia langsung turun dan meminta agar perkebunan segera menutup parit bekoan dan segera mencuci parit guna memperlancar arus air ke sungai terdekat. Permintaan itu pun diamini oleh perusahaan.

" Begitu kejadian, saya langsung turun ke lokasi. Saya minta agar parit yang jebol ditutup dan lakukan pencucian parit. Paritnya ditutup dan dilakukan pencucian, walaupun ada masyarakat yang menghadang. Kita lakukan pertemuan beberapa kali, akhirnya pencucian sudah berjalan. Sekarang tinggal soal ganti rugi" bebernya.

Mengenai kesimpulan rapat yang digelar hari itu, Bangun mengatakan pihak perusahaan diberi waktu 14 hari untuk membicarakan soal ganti rugi ke pihak manajemen. 

" Jadi perusahaan diberi waktu empat belas hari dari sekarang, untuk membicarakan soal ganti rugi ke manajemen" ucapnya.(dian)
Share on Google Plus

About DETEKSI co

Redaksi DETEKSI.Co Menyajikan Informasi Berita Terkini, Kritis & Konstruktif
Hubungi Redaksi : 085372729191