100 Hari Kinerja Walikota Bogor Dinilai Gagal

Editor: DETEKSI.co author photo
DETEKSI.co - Bogor Tengah, Pada tanggal 30 Juli 2019 kepemimpinan Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim genap memasuki 100 hari kerja paska dilantik pada 21 Juli 2019 lalu.

Meski keduanya tidak mencanangkan program 100 hari kerja, namun ada sejumlah pencapaian yang sudah dicapai oleh Bima dan Dedie. Diantaranya pengembalian fungsi trotoar di sejumlah lokasi di pusat Kota Bogor, penyelesaian masalah transportasi.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menjelaskan bahwa ada sejumlah progres yang sudah dicapai.
" Sejauh ini ada beberapa capaian yaitu penyelesaian masalah R3, penyelesaian masalah Pasar Kebon Kembang Blok F, penataan PKL di 10 lokasi, rekayasa lalu lintas di Jalan KS Tubun untuk mengurai kemacetan, dan kedepan akan ada Mall Pelayanan Publik di Lippo Keboen Raya," katanya.

Namun jika dilihat dari daftar janji kampanye Bima Arya dan Dedie A Rachim, Pemerintah Kota Bogor masih memiliki segundang pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Diantaranya janji kampanye Bima Arya Dedie A Rchim adalah renovasi 20 ribu RTLH, revitalisasi pasar tradisonal, pembangunan sarana olahraga disetiap kecamatan, konversi angkutan kota, membangun kawasan ekonomi di wilayah.

Menanggapi banyaknya program janji kampanye itu, Pengamat Kebijakan Publik Yusfitriadi menjabarkan, indikator keberhasilan kinerja pemerintah dalam menyelesaikan program-programnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan program pemerintah itu ada tiga aspek yang pertama dari aspek administratif, kwantitatif dan kwalitatif, diluar dari itu masyarakat bisa menilai gagal mengimplementasikan janji janjinya.

"Secara administratif, kinerja pemerintah sudah dinyatakan berhasil apabila semua program yang sudah direncanakan melalui BAPPEDA semuanya atau tingkat presentasinya tinggi atau sedang dilakukan, secara kwantitatif, ini berkaitan dengan keterserapan anggaran.

Ketika semua anggaran yang sudah dianggarkan terserap, maka secara kwantitatif dianggap berhasil kinerja pemerintah, selanjutnya adalah secara kwalitatif, itu berhubungan dengan kondisi faktual dilapangan, soalnya belum tentu keberhasilan secara administratif dan kwantiatif akan dengan serta merta berefek positif bagi pembangunan di lapangan masyarakat Kota Bogor," ujarnya.(Erik)
Share:
Komentar

Berita Terkini