Bawa 50 Kg Sabu, Duo Manurung Lolos dari Hukuman Mati

Editor: DETEKSI.co author photo
DETEKSI.co - Rantauprapat, Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat memvonis Ruslian Manurung dan Andi Sahputra Manurung dengan hukuman 20 tahun penjara. Vonis majelis hakim ini lebih ringan dari permintaan jaksa yang menuntut agar keduanya divonis hukuman mati.

"Menyatakan para terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melawan hukum dalam melakukan tindak pidana permufakatan jahat menjadi perantara dalam jual beli narkotika jenis sabu," kata ketua majelis hakim, Khamazaro Waruho, Kamis (5/9/2019).

Majelis hakim menyatakan, Ruslian dan Andi tak terbukti sebagai pengimpor barang haram tersebut sebagaimana tuntutan jaksa penutut umum. Keduanya divonis dengan hukuman penjara selama 20 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

"Menyatakan terdakwa Ruslian Manurung alias Iyan dan Andi Saputra Manurung aliaa Adi Syahputra Manurung alias Putra tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primair Pasal 113 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan membebaskan terdakwa dari dakwaan primair," ujar hakim.

Sementara , Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Labuhanbatu mengajukan upaya banding atas vonis 20 tahun penjara nelayan perantara atau kurir Narkotika jenis sabu dari Negara Malaysia, pertimbangan vonis hakim itu dinilai tidak adil dalam pemberantasan Narkoba di daerah.

"Kami mengambil sikap upaya banding," kata JPU Daniel Tulus Sihotang dan Maulita Sari, ketika di konfirmasi Antara usai sidang vonis perkara Narkotika, Kamis (5/9) di Pengadilan Negeri Rantauprapat.

Ia menjelaskan, JPU sudah melakukan tuntutan pidana mati dan membuktikan secara sah terlibat jaringan internasional dalam penyelundupan Narkotika jenis Sabu sebanyak 50 kilogram, 15 ribu pil ekstasi dan 900 happy five dari Negara Malaysia.

Pihaknya menjerat kedua terdakwa dengan pasal 113 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ayat 2 junto 132 ayat 1 dan Undang-Undang nomor 62 Nomor 7 tahun 1997 tentang psikotropika.

"Berdasarkan informasi dan keterangan saksi dalam persidangan kemarin, pihak Mabes Polri menyatakan bahwa kedua terdakwa ini merupakan jaringan internasional, memang bandarnya belum tertangkap karena masih dalam pengejaran kepolisian," katanya. (Dian)
Share:
Komentar

Berita Terkini