Inter Religious Peace Confrence di Zanzibar, Agama Mempersatukan, Toleransi Dirawat dan Dibudayakan

Editor: Irvan author photo
Bupati Sergai Ir H Soekirman Hadiri Konferensi Perdamaian Agama di Zanzibar. (foto/AA) 


DETEKSI.co - Zanzibar City, Zanzibar merupakan kota yang terletak di Tanzania, sebuah negara di Afrika Timur yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di bagian timur. Di negara ini, meskipun pemeluk agama Hindu sangat minoritas, namun para mufti (ulama) dan pemerintah melarang warga Muslim memotong lembu di wilayah tempat tinggal warga Hindu.
Suatu bentuk toleransi kepada masyarakat Hindu, dengan tidak memotong daging lembu, kata Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman yang disampaikan kepada Kadis Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Drs H Akmal, M.Si melalui WhatsApp langsung dari Zanzibar, Tanzania, Senin (23/9/2019) pagi.

Dikatakan Soekirman bahwa warga Muslim terhadap warga Nasrani saling ucapkan selamat pada hari besar, saling kunjung dan mengirim makanan sebagai hadiah. Pada perayaan Natal, warga Muslim diberi makanan oleh warga Nasrani, begitupun sebaliknya, katanya.

Bupati yang didampingi Ketua TP PKK Ny Hj Marliah Soekirman didaulat sebagai pembicara disebuah forum dengan tajuk " How to strengthen potential of religious Actors in Promoting Peace" menyampaikan bahwa hubungan saling hormat menghormati merupakan kebiasaan dan sudah membudaya dikalangan pemeluk agama-agama di Zanzibar dan Tanzania secara umum.
“ Bentuk toleransi yang dipelihara sejak abad ke 18 masa pemerintahan Sultan Oman, telah menjadi budaya turun temurun di Zanzibar,” ujar Soekirman.

Kultur toleransi Interfaith inilah menjadi pertimbangan United Evangelical Mission (UEM) Germany, memilih Zanzibar sebagai best practice dan menempatkan Inter Religious Peace Confrence (Konferensi Perdamaian Agama) di Zanzibar. Kegiatan yang dibuka oleh Vice President Amb.Seif A.Iddy di Zanzibar Beach Resort 19-23 September 2019.

Konfrensi ini di ikuti sekitar 70 orang dari 11 Negara Afrika, Asia, dan Eropa. Indonesia delegasi terdiri dari PGI Dr. Henriette Lebang, Gomar Gultom MA, Jakarta, Rev.Rosmalia Barus GBKP Sumut,  Diah Krismawati German/Indonesia, Martin R Purba GKPS, Hj.Marliah TP.PKK, dan Pdt.Pimpinan Sijabat HKI.

Sedangkan Satu-satunya utusan dari pemerintah adalah Ir.H.Soekirman yang merupakan Bupati Sergai, Provinsi Sumut yang mayoritas lindungi Minoritas, Soekirman menjelaskan Penduduk Zanzibar sekitar 1,5 juta jiwa dan 95 % beragama Islam. Masyarakat Kristen dan Hindu merupakan minoritas karena jumlahnya hanya beberapa persen saja. “ Mayoritas sangat melindungi kaum minoritas, dimana peran pemerintah memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih agama dan kepercayaan masing-masing,” ujarnya.

Leadership (kepemimpinan) sejak Presiden Nyrere, budaya saling hormat antar agama semakin subur. Selain kebebasan memeluk kepercayaan, hubungan antar agama di Zanzibar sudah masuk pada tahap menjawab masalah sosial, ekonomi dan budaya. Urusan agama tak lagi menjadi perdebatan.

Sambung Soekirman, mayoritas Islam disini pengikut Mahzab Syafii atau Ahlus-sunnah wal jama’ah (Ajaran Islam). Salah satu contoh upaya bersama antar agama seperti usaha "Upendo" yakni tempat belajar wiraswasta, belajar konveksi dan pemasaran produksi di Stonetown Zanzibar, jelas Soekirman.

Gerakan Bebas Plastik
Bupati Soekirman juga sangat kagum atas aturan yang ada di Zanzibar. Untuk melestarikan lingkungan dan mencegah kerusakan, Pemerintah Tanzania melarang keras masyarakat membuang sampah plastik. Gerakan yang dimulai dari komunitas kini menjadi gerakan negara dan di atur dalam Undang-Undang serta sanksi hukum bagi pelanggar.

Bahkan kini gerakan anti sampah plastik telah jadi gerakan bersama Afrika Timur, seperti Kenya, Tanzania, Rwanda, Namibia, Cameroon dan lainnya. Inter religous Islam, Nasrani, Budha dan Hindu sama-sama melakukan langkah bersama untuk common sence (akal sehat) dalam melindungi planet bumi yang semakin keberatan beban.
Zanzibar Spirit
Dari pengalaman perjalanan Bupati Soekirman saat menjadi pembicara di Forum Inter Religious Peace Confrence, memiliki kesan mendalam. Apa yang patut dibawa pulang? Praktek terbaik memelihara toleransi antar umat beragama, konservasi lingkungan, gerakan ekonomi kerakyatan, silaturahmi antar agama, cocok dibawa ke Indonesia,
Gerakan anti radikalisme dan saling hormat bisa menjadi cara untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat. Pancasila dan UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan pusaka yang pantas kita rawat.

Oleh karenanya, Delegasi Indonesia siap membawa "Zanzibar Spirit" untuk menjadi ingatan dan komitmen bersama membumikan di Indonesia.
Forum antar agama seperti FKUB, MUI, PGI, Walubi, Parisada Hindhu serta lembaga-lembaga profesi lainnya akan diajak serta untuk melakukan aksi nyata di masyarakat. Soekirman berjanji akan membawa hasil "Zanzibar Spirit" Dr. PWT Simarmata anggota DPD RI selaku pemberi rekomendasi ikutnya Sergai dalam forum tersebut.
Pada sidang plenary session Soekirman menampilkan presentasi "Harmony among the Believers"  dalam case Kabupaten Sergai dan mendapat sambutan hangat dari peserta. Sedangkan dipenghujung acara pembukaan Komperensi, Soekirman juga didaulat menyerahkan ulos dan cenderamata kepada vice Presiden Zanzibar, Demikian disampaikan Bupati Sergai Ir Soekirman melalui Kadis Kominfo Drs H Akmal, M.Si. (AA)

Share:
Komentar

Berita Terkini