Penolong Ibu Melahirkan di Tengah Hutan, Bhabinkamtibmas dan Bidan Desa Respon Pengaduan

Editor: DETEKSI.co author photo
DETEKSI.co - Jakarta, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polri berkolaborasi dengan bidan desa dan warga tepi hutan membangun rumah singgah untuk transit ibu hamil yang akan melahirkan dari tengah hutan. Inovasi ini dinamakan sebagai Barisan Siap (Bhabinkamtibmas Respon Pengaduan Setiap Permasalahan Publik) yang juga berperan menyatukan dan mendamaikan masyarakat yang selama ini berkonflik.
Tugas pokok Bhabinkamtibmas di bidang keamanan, namun inovasi ini menunjukkan kejelian Bhabinkamtibmas dalam membangun lingkungan kondusif melalui pendekatan yang tidak lazim.

Setelah inovasi berjalan satu tahun sejak awal 2018 di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, konflik sosial turun dengan signifikan, bahkan menjadi nol pada tahun 2018-2019. “Padahal sejak tahun 2010-2017 di Jambewangi terjadi konflik sosial sebanyak 12 kasus. Sampai Maret 2019 angka kematian ibu dan bayi menjadi nol,” terang Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Luki Hermawan Azizah dalam presentasi dan wawancara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019 di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Dijelaskan, Bhabinkamtibmas merangkul para pemangku kepentingan, bidan desa, dan tokoh-tokoh kunci yang selama ini terlibat konflik berkepanjangan untuk membangun rumah singgah. Susunan panitianya diserahkan kepada pemuka masyarakat yang selama ini berkonflik. Barisan Siap juga berdampak pada peningkatan sinergitas antar-pemangku kepentingan antara lain dengan bidan desa, pemerintah desa, dan komunitas lokal dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat. "Dalam waktu tiga minggu, bangunan shelter didirikan dan langsung diresmikan oleh Kapolres," ungkap Luki.

Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Luki Hermawan Azizah (tengah) dalam presentasi dan wawancara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019 di Kementerian PANRB.

Jauh sebelum kehadiran inovasi Barisan Siap, kondisi situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tidak kondusif sehingga konflik kepentingan sering terjadi di desa ini. Berdasarkan data Polres Banyuwangi sepanjang tahun 2010 sampai 2017, Desa Jambewangi menjadi desa dengan tingkat konflik sosial tertinggi di Kecamatan Sempu. Sejak tahun 2010 terjadi kasus sosial antar kelompok masyarakat yang melibatkan gerakan massa, diantaranya demonstrasi, hearing dengan DPRD, hingga terjadi perusakan fasilitas publik secara masal. Selain itu, di daerah tersebut sering terjadi kematian ibu dan bayi waktu melahirkan.

Setidaknya terdapat tiga aspek, yakni aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, yang membuat inovasi ini berkelanjutan dan memberikan manfaat luas. Dari aspek sosial, inovasi menumbuhkan kembali sifat gotong royong masyarakat yang selama ini luntur karena adanya konflik berkepanjangan. Kepedulian sosial masyarakat terhadap masalah yang terjadi dilingkungannya turut meningkat, termasuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil yang sangat rentan dengan kematian saat melahirkan.

Aspek ekonomi melingkupi kolaborasi lintas sektor dalam pembiayaan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta pembiayaan mandiri oleh masyarakat setempat. Hal ini juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari pengusaha lokal menyokong inovasi ini sehingga tidak memerlukan biaya dari negara.

Sementara dari aspek lingkungan, inovasi ini berhasil menciptakan situasi harmonis di Desa Jambewangi. Kondisi psikologis dari seluruh ibu-ibu hamil yang ada di Desa Jambewangi semakin terjaga. Para calon ibu tidak perlu khawatir lagi bila menghadapi persalinan karena sudah banyak yang memperhatikan baik urusan biaya maupun transportasi ke fasilitas kesehatan.

Bhabinkamtibmas Desa Jambewangi menjadi panutan bagi Bhabinkamtibmas di sekitarnya. Pada tahun 2019, mulai bermunculan beberapa Bhabinkamtibmas kreatif antara lain di Desa Gladag Kecamatan Rogojampi yang membantu pendampingan ibu hamil dan pelaksanaan imunisasi, Desa Tegaldlimo yang melakukan bedah rumah, dan Kelurahan Sobo yang peduli terhadap buta aksara.

“Mudah-mudahan ini akan menjadi percontohan dari Jawa Timur bagi wilayah-wilayah lain, ini adalah tangung jawab kami yang ingin memberikan yang terbaik. Semoga kedepan akan jadi lebih baik,” harap Luki. (clr/HUMAS MENPANRB
Share:
Komentar

Berita Terkini