Wiwiek Sisto: Perang Dagang AS dan Tiongkok Pengaruhi Pertumbuhan Ekspor Sumut

Editor: Irvan author photo
Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Provsu), Wiwiek Sisto Widayat (tengah) didampingi Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi KPw BI Provinsi Sumut, Demina R Sitepu (kiri)  dan Achmad Darimy Analis Senior KPw BI Sumut (kanan). (foto/ist)

DETEKSI.co - Medan, Perkembangan ekonomi terkini, tantangan dan prospek perekonomian, hal itu disampaikan oleh Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Provsu), Wiwiek Sisto Widayat disela-sela Pelatihan dan Gathering Wartawan Kota Medan Tahun 2019 yang dilaksanakan di Taman Simalem Resort di Jalan Raya Merek - Sidikalang Km 9, Kabupaten Tanah Karo, Kamis (26/9/2019), pagi.

Sementara pertumbuhan ekonomi Global melambat terutama dipengaruhi oleh hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlanjut. Karena terjadinya perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Kepala BI Perwakilan Provsu, Wiwiek Sisto Widayat menjelaskan untuk impor Tiongkok USD 300 miliar, pada 23 Aguatus Tahun 2018 pengenaan tarif berkisar 25 %, pada 24 September 2018 pengenaan tarif 10 % impor Tiongkok senilai USD 200 miliar, pada 10 Mei 2019 mengalami penurunan tarif yabg sebelumnya 10 % menjadi 25 %.

Kemudian, pada 29 September 2019 dalam pertemuan G20 AS setujuh untuk tidak mengenakan tarif 25 % terhadap sisa impor Tiongkok sebesar USD 300 miliar, Tiongkok setujuh untuk membeli sejumlah besar barang pertanian sebagai gantinya, selanjutnya, pada 2 Agustus 2019 pengumuman pengenaan tarif 100 % untuk impor Tiongkok senilai USD 300 miliar mulai per 1 September 2019, pada 17 Juli 2019, AS mengancam Tiongkok untuk mengenakan tarif USD 325 miliar atas impor Tiongkok yang bersisa, Karen belum ada pembelian besar-besaran barang pertanian AS seperti yang dijanjikan dalam pertemuan G20.

Selanjutnya, pada 5 Agustus 2019, Tiongkok "membiarkan" mata uang Yuan melemah ke level diatas RMB 7/ 1 USD untuk pertama kalinya sejak tahun 2008. Namun PBOC menyangkal jika pelemahan tersebut untuk mengomensasi kenaikan tarif.

Dampak perang dagang AS dengan Tiongkok terhadap Indonesia. Perlu diketahui sambung Wiwiek, Indonesia dapat mengisi perdagangan ekspor - impor yang direstriksi oleh masing-masing Negara (AS dan Tiongkok).

Imbas perang dagang AS - Tiongkok terhadap Sumatera Utara yakni ekspor utama Tiongkok ke AS yang terkena kebijakan perang dagang sebagian besar berupa produk manufaktur dalam bentuk barang setengah jadi dan barang jadi.

"Namun, produk similarity analysis dari 60 komoditas ekspor terbesar AS dan Indonesia ke Tiongkok menunjukan bahwa Sumut sulit untuk mengambil peluang ini, karena ekspor Sumut untuk produk sejenis sangat minim hanya sebesar 4,5 juta atau 1,4 % dari total ekspor Sumut ke AS mayoritas berupa peralatan elektronik (kabel dan lighting)," papar Kepala BI Perwakilan Provsu, Wiwiek Sisto Widayat didampingi Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi KPw BI Provinsi Sumut, Demina R Sitepu dan Achmad Darimy Analis Senior KPw BI Sumut.

Pun begitu, pertumbuhan ekspor USA ke China pada Tahun 2016 mencapai 0,41%, pada Tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai 12,29%, pada Tahun 2018 mengalami penurunan mencapai 7,43%. Sementara pertumbuhan ekspor Indonesia ke China pada Tahun 2016 mencapai 11,56%, pada Tahun 2017 naik sekitar 37 32%, namun pada Tahun 2018 mengalami penurunan sekitar 17,69%.

Sambung Wiwiek Sisto Widayat, menjelaskan, berdasarkan keputusan Rapat Dewan Gubernur BI pada 18 - 19 September 2019, bahwa Bank Indonesia 7 - Day Reserve Repo alami penurunan 5,25%. Begitu juga dengan auku bunga deposit facility (DF) turun 4,50% dan suku bunga lending facility (LF)  turun 6,00%. (van)

Share:
Komentar

Berita Terkini