5 Tersangka Pembunuh Maraden dan Maratua Diringkus Poldasu, 3 DPO

Editor: Irvan author photo
DETEKSI.co - Medan, Polda Sumatera Utara berhasil menangkap lima terduga tersangka penganiayaan hingga menyebabkan meninggalnya Maraden Sianipar (52) dan Maratua P Siregar (42) di Sei Berombang.

Penangkapan itu dilakukan, usai menindaklanjuti laporan polisi Nomor : LP/61/X/2019/RES-4.2/P. Hilir, tanggal 30 Oktober 2019.

Kelima tersangka berhasil dibekuk polisi, yakni Janti Katimin Hutahean atau JKH (42) warga Pajak Nagor Dusun 5 Perdangangan, Kabupaten Simalungun, JS, R, DS dan HS. Sedangkan 3 tersangka lainnya telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan masih dalam pengejaran petugas kepolisian.

Demkian dikatakan Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto melalui Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut, Kombes Pol Andi Rian dampingi Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, AKP Jamakita Purba, Jumat (8/11/2019).

Kombes Andi Rian menjelaskan, modus operandi yang dilakukan tersangka yakni dengan alasan untuk mengusir penggarap di lahan Perkebunan PT. SAB/KSU Amelia dan selanjutnya secara bersama-sama melakukan pemukulan dan pembacokan hingga korban meninggal dunia dan jasad kedua korban dibuang ke dalam parit bekoan.

Dalam perkara ini, Janti Katimin Hutahean atau JKH yang berperan sebagai otak pelaku pembunuhan ini yang direncanakan di rumah tersangka bersama tersangka JS, R dan HS. Menurut pengakuan tersangka, mereka menerima instruksi dari H selaku pemilik KSU Amalia, untuk mengusir dan kalau melawan habisi grup korban yang saat kejadian berada di lokasi.

Usai menerima perintah, JKH mengarahkan eksekutor DS, JS, R dan HS untuk menjaga kebun dari para penggarap. Jika ada yang melawan dan tidak mau diusir, maka ancaman pembunuhan ditegaskan terutama Maraden Sianipar. Tersangka juga menerima kiriman uang dari Wati selaku Bendahara KSU Amalia sebesar Rp.40 juta usai melakukan pembunuhan terhadap korban dan membagikannya kepada tersangka lainnya. JKH juga memberikan dana operasional sebesar Rp.1,5 kepada tersangka DS untuk berangkat dari Perdagangan – Siantar ke Berombang.

“Kemudian, setelah melakukan pembunuhan, ia menerima kiriman uang dari Wati selaku bendahara PT Amalia sebesar Rp.40.000.000 dan membagikannya kepada JS sebesar Rp.7.000.000, DS sebesar Rp.17.000.000, HS mendapat Rp 9.000.000, dan JKH mendapat Rp.7.000.000,” jelas Andi.

Andi Rian memaparkan, adapun peran dari para masing-masing eksekutor, sesuai keterangan tersangka JKH, yakni VS alias Revi berperan memukul Maraden dengan kayu, menarik korban dan memasukkan korban ke dalam parit Bekoan. Kemudian SH berperan memukul korban Maraden dengan menggunakan kayu bulat panjang, lalu bersama VS menyeret korban dan memasukkannya ke dalam parit Bekoan. Sedangkan DS berperan merekrut R untuk menghabisi grup Maraden. Kemudian membacok kepala korban sebanyak 2 kali dan telapak tangan kiri korban sebanyak 1 kali, serta mencekik leher Sanjai, dan mendapat bagian Rp.10.000.000 lalu memberikan uang operasional kepada R sebesar Rp.7.000.000.

Namun Andi Rian menyebutkan, untuk tersangka HP alias Harry, berdalih tidak ada berperan dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Ia juga mengatakan dirinya bukan pemilik kebun, melainkan salah satu dari pemilik kebun kelapa sawit KSU Amelia itu adalah mertuanya.

“Selain itu, ia juga mengatakan mengenal Janti Katimin Hutahaen sebagai Humas/Security kebun kelapa sawit Amelia. Namun untuk JS dan HS tidak dikenalnya,” ungkapnya

"Para tersangka diancam dengan Pasal 340 Subs Pasal 338 KUHPidana dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara," pungkas Andi Rian. (ir)
Share:
Komentar

Berita Terkini