Presidium Garuda Merah Putih Community Menolak Pelaku Bom Bunuh Diri Dikuburkan di Medan

Editor: DETEKSI.co author photo
Presidium Garuda Merah Putih Community Sumatera Utara (GMPC Sumut), Dedi Harvisyahari
DETEKSI.co - Medan, Presidium Garuda Merah Putih Community Sumatera Utara (GMPC Sumut), Dedi Harvisyahari mengutuk keras terkait tindakan bom bunuh, tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini membenarkan cara-cara kekerasan.

" Bom bunuh diri bukan jihad. Bom bunuh diri bukan perintah agama, berdasarkan itu kami menolak pelaku bom diri di kubur di Medan" tegas Presidium GMPC Sumut kepada DETEKSI.co Minggu (17/11/2019).

Terjadinya Bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan baru baru ini membuat publik menjadi marah dan mengecam tindakan tindakan teror di Sumatera Utara khususnya Kota Medan.
" Hal ini sangat membahayakan masyarakat ketika radikalisasi yang menimbulkan dampak dan efek domino dari pemahaman yang radikal ini, masyarakat menjadi was was akibat teror pelaku bom bunuh diri ini, " tegas Presidium Garuda Merah Putih Community Sumatera Utara.

Akibat dari pemahaman yang negativ dari para ahli Agama yang terus menerus sehingga menebarkan faham radikal ini dan menjadikan korban korban pemahaman radikal ini menjadi martir untuk melakukan tindakan tindakan dalam bentuk teror terhadap masyarakat dan serta merongrong wibawa pemerintah yang sah, kata Dedi.

" Banyak masyarakat termasuk saya meminta agar pelaku bom bunuh diri ini agar tidak di makam kan atau di kuburkan di medan, karena apa yang di lakukan pelaku sangat merusak nilai nilai agama terutama agama islam. Saya menentang terhadap pelaku bom bunuh diri ini di kuburkan di perkuburan muslim, karena secara umum pelaku tidak membawa nama islam ketika dia melakukan tindakan bom bunuh diri tersebut. " ucap Dedi dengan geram sambil mengepalkan tangan.

Umumnya masyarakat Medan di harapkan untuk mempercayakan kasus bom bunuh diri ini kepada aparat keamanan agar para pelaku radikal yang lainnya bisa di tangkap dan dihukum seberat beratnya, dan ingat ajaran islam atau agama yang lainnya tidak mengajarkan sesuatu kekerasan dalam memahami kitab sucinya, namun pemahaman pemahaman yang radikal ini dapat di cegah dan di tangkal secara dini oleh instansi keagamaan yang ada, jelas Dedi mengakhiri perkataannya. (Red)
Share:
Komentar

Berita Terkini