Iklan KPU Kota Medan

Iklan KPU Kota Medan
Ayo Nyoblos, 09 Desember 2020

Acara Tradisi " Tedak Sinten" Warisan Leluhur di Nganjuk

Editor: Irvan
DETEKSI.co - Jatim, Upaya melestarikan budaya warisan leluhur tradisi " Tedak Sinten/Piton-Piton yang dilakukan oleh Hajah Marni salah satu warga Desa Mlandangan, Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Prosesi Tedak Sinten ini berlangsung sangat meriah dan disaksikan oleh ratusan warga sekitar serta warga pendatang dari desa lain, Minggu (15/03/2020).

Tradisi yang diadakan oleh salah satu warga desa Mlandangan ini secara harfiah bertujuan untuk memperkenalkan tujuan dan harapan dalam kehidupan ini pada si Bayi saat usianya menginjak 7 bulan.

Adapun prosesi ritual Mudun Lemah/Turun Tanah/Tedak Sinten ini dilakukan melalui tahapan yang berjumlah Pitu/Tujuh.
Prosesi pertama dimulai dengan menaiki tangga yang terbuat dari pohon tebu, dimana Tebu mengandung makna " Anteb ing Kalbu" yang artinya ketika menjalani kehidupan ini, si Bayi diharapkan memiliki kemantapan untuk menjalani hidup, berjalan lurus dari bawah ke atas sesuai dengan alur yang baik.

Prosesi kedua adalah, Napaki Jadah atau bayi berjalan diatas Jenang yang terbuat dari ketan yang berjumlah 7 warna. Adapun 7 warna tersebut adalah Hitam,  Merah, Biru, Kuning,Ungu, Hijau dan Putih. Maknanya adalah, kehidupan berawal dari gelap menuju terang seiring dengan beraneka warna lain yang mengiringi kehidupan ini.

Prosesi Ketiga adalah, si Bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam, yang memiliki makna simbol dunia. Kurungan ayam itu berisi bermacam-macam benda mulai dari alat mainan, alat tulis sampai peralatan dapur. Bayi akan memilih salah satu benda yang berada dalam kurungan untuk melihat kira-kira profesi atau cita-cita apa yang akan diinginkan oleh si Bayi ketika dia dewasa kelak.

Semua simbol dari benda-benda tersebut akan terbaca ketika si Bayi memilih salah satu benda yang ada. Proses selanjutnya, Bayi diharuskan memilih gambar tokoh pewayangan yang dipercaya dapat membentuk karakternya ketika dia beranjak tumbuh dewasa. Selanjutnya Bayi akan dimandikan dengan menggunakan air dari tujuh sumber mata air yang di campur dengan bunga.

 Pitu/ tujuh sumber mata air ini bermakna "Pitulungan" atau pertolongan. Diharapkan ketika sudah besar nanti si Bayi akan selalu mendapatkan pitulungan atau pertolongan serta kemudahan dari berbagai arah dalam menjalani kehidupan.

Prosesi keenam, kemudian Bayi ditaruh diatas tikar yang oleh ibunya sudah diberi atau disebari beras kuning dan uang receh. Hal ini dikandung arti rejeki dan penghidupan. Meski berkecukupan harus punya sifat hati-hati dan waspada terhadap sesuatu yang menimbulkan bahaya.
Beras atau "upo" melambangkan pangan dan uang receh melambangkan kekayaan.

Nantinya sebagian dari uang recehan itu dibagikan kepada orang-orang sekitar yang berdatangan, maknanya adalah "sedekah" atau berbagi pada sesama. Prosesi terakhir adalah, si Bayi dibiarkan berinteraksi dan digaulkan dengan teman seusianya. Artinya hidup ini harus mengenal dan bersosialisasi dengan yang lain atau lingkungannya.

"Kami berharap melalui tulisan ini, tradisi Tedak sinten/mudun lemah/piton-piton ini tetap di lestarikan hingga generasi mendatang. Krisis moral yang saat ini melanda generasi bangsa karena mereka tidak mengenal tradisi budaya nenek moyangnya," ujar ib Faris (36) salah satu warga desa yang menyaksikan ritual tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Tedak Sinten atau Piton-Piton kali ini sangat meriah, karena uang recehan yang dibagikan lebih banyak dari acara sebelunya yakni Rp 3 juta.

"Inilah yang membuat antusiasme warga sekitar meningkat, untuk sekedar memburu uang koin yang dibagi-bagikan," ucap Faris. (Didik S)
Share:
Komentar

Berita Terkini