Kisah Pilu, Tuna Netra Berjuang Hidup Ditengah Pendemi Covid-19

Editor: Irvan
DETEKSI.co - Medan, Potret kemiskinan di tengah gencarnya pembangunan Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara masih terlihat nyata dan luput dari perhatian pemerintah.

Seperti yang dialami pasangan suami istri (pasutri) Alven Silitonga (50) dan Evi Boru Nadeak (51) warga Gang LKMD samping Gang Sabang dan bersebelahan dengan rel kereta api Jalan Mandala, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumut.

Dari pantauan media, pasutri tersebut tinggal di sebuah rumah berukuran 4x6 M2 dan kabarnya rumah tersebut merupakan peninggalan orang tua Alven Silitonga.

Saat di sambangi, Alven Silitonga bercerita tentang kondisi kehidupannya dan ia mengalami kebutaan sejak ia masih kecil dan berusia sekitar umur 5 tahun akibat terkena sakit campak.

Pasutri ini mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Hanya suaminya saja yang bekerja sebagai tukang kusuk Tunanetra. Selama Pandemi Covid-19 tidak ada satupun orang yang datang untuk ngusuk kepadanya. Saat ini mereka hanya mengharapkan belas kasihan orang lain.

"Terkadang saya medapat bantuan dari keluarga itupun jika keluarganya ingat sama mereka," kata Alven, Sabtu (9/5/2020), sekitar pukul 11.18 WIB.

Dengan kondisi yang tak henti-hentinya meneteskan air mata, Alven Silitonga menceritakan kisah memilukan yang dialaminya selama beberapa tahun belakangan ini. 

Ketika itu pasutri ini ingin mengurus Kartu Keluarga (KK) dan mereka pun menemui Kepala Lingkungan mereka yang berinisial H. Namun ketika bertemu, Kepling tersebut tidak mau mengurus KK dan KTP mereka dengan alasan pasutri itu tidak memiliki surat pindah. Pada hal Alven Silitonga sudah tinggal di Gang LKMD ini sudah puluhan tahun sejak di tinggalkan oleh keluarganya yang saat ini memilih tinggal menetap di Batam.

"Sebelum saya menikah, saya sudah tinggal disini bersama orang tua saya, abang dan adik-adik saya. Namun karena mereka pergi ke Batam dan meninggalka saya berjuang sendiri dirumah ini. Masak saya mengurus KK dan KTP harus memakai surat pindah?, Kan aneh," ujarnya sambil mengusap -ngusap matanya yang tengah berlinangan air mata.

Sambungnya mengungkapkan, ditengah Pandemi Civid-19 ini ia tak lagi memiliki penghasilan tetap akibat tidak ada lagi orang yang mau di kusuk.

"Karena tidak ada lagi orang yang datang untuk di kusuk mau tidak mau karena untuk menutup perut yang sejengkal ini saya pun terpaksa ke pasar Sukarame, Komplek Asia Mega Mas untuk mencari nafkah menjadi seorang pengemis. Itu saya lakukan hanya untuk menyambung hidup dan bukan sebagai mata pencarian karena saya masih memiliki diberikan Tuhan dua tangan dan dua kaki yang masih bisa saya pergunakan," pungkasnya.

Pasutri tersebut berharap perhatian dari Gubernur Sumut, Plt Walikota Medan dan Kapolda Sumut agar dapat membantu mereka dalam pengurusan KK dan KTP serta berharap bantuan sembako pemerintah. Karena pasangan ini adalah segelintir potret kemiskinan yang kurang mendapat perhatian pemerintah.(Red/Pet)
Share:
Komentar

Berita Terkini