Wiwiek : Komoditas Bawang Merah Salah Satu Penyumbang Inflasi

Editor: Irvan author photo
DETEKSI.co - Medan, Dampak Covid-19 terhadap perekonomian Dunia dan pertumbuhan ekonomi negara maju terkontraksi cukup dalam. Saat ini ekonomi global diprakirakan menurun pada triwulan II dan triwulan III 2020, sebelum kembali memuncak pada triwulan IV 2020. Perekonomian dunia akan meningkat di 2021 didorong dampak positif kebijakan yang ditempuh banyak negara pada 2020. Hal itu katakan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Wiwiek Sisto Widayat saat mengelar kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) secara online, Jumat (8/5/2020).

Kemudian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan kebijakan Bank Indonesia dalam mengantisipasi Covid-19 tetap longgar.
"Kebijakan Bank Indonesia difokuskan pada upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar rupiah melalui peningkatan intensitas kebijakan triple intervention. Selain itu, untuk mengupayakan pemulihan ekonomi nasional dari dampak Covid-19 dilakukan pelonggaran moneter melalui instrumen kuantitas (quantitative easing) yang keseluruhannya telah mencapai Rp.503 triliun (update per 6 Mei 2020)," kata Wiwiek Sisto Widayat.

Selanjutnya Wiwiek menjelaskan perekonomian Sumut masih tumbuh cukup kuat pada Triwulan I 2020. Dalam hal ini perekonomian Sumut tercatat 4,65% (yoy), jauh di atas Nasional dan Sumatera yang masing – masing tercatat 2,97% (yoy) dan dan 3,25% (yoy). Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Sumut tertinggi ke-2 setelah Sumsel (4,98%; yoy). Di era pandemi, realisasi ini masih cukup baik meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,21%;yoy), sesuai pola historis di awal tahun.

"Perekonomian Sumut masih tumbuh cukup kuat dibandingkan nasional dan Sumatera (%,yoy)," bilang Wiwiek.

Sementara itu, disisi permintaan ditopang oleh akselerasi konsumsi. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh akselerasi Konsumsi RT didorong oleh meningkatnya pendapatan masyarakat seiring dengan kenaikan harga CPO. Di satu sisi, investasi mengalami perlambatan dipengaruhi oleh belum terealisasinya belanja modal pemerintah dan pembangunan swasta yang terbatas yang terkonfimasi oleh penurunan penjualan semen. Ekspor terkontraksi akibat penurunan permintaan eksternal pada masa pandemi. Sementara, impor terkontraksi lebih dalam didorong oleh penurunan impor barang modal serta terbatasnya pelancong ke luar negeri karena Covid-19.

Perekonomian Provinsi Sumatera Utara pada triwulan II 2020 diprediksi tumbuh terbatas dari triwulan sebelumnya. Perlambatan ekonomi diperkirakan bersumber dari penurunan kinerja permintaan eksternal akibat pandemi Covid-19 yang diprediksi berpotensi menghambat rantai suplai global serta sektor pariwisata. Hal tersebut ditengarai akan tercermin oleh perlambatan LU Industri Pengolahan, LU perdagangan, LU transportasi dan pergudangan, serta LU akomodasi dan makan minum dan tercermin oleh penurunan hasil survei perkiraan kegiatan usaha ke depan. Penurunan permintaan eksternal juga terkonfirmasi oleh penurunan harga komoditas di pasar internasional. Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh melambat dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat akibat terganggunya kinerja dunia usaha dan pembatasan aktivitas masyarakat untuk menahan laju penyebaran Covid-19.

"Hal ini terindikasi oleh penurunan indeks keyakinan konsumen dan penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu," ujarnya.

Tidak hanya itu, prospek PDRB Sumatera Utara 2020 juga membayangi resiko perlambatan perekonomian Sumatera Utara akibat Covid-19. Dalam skenario mild, meluasnya dampak Covid-19 diprakirakan mendorong perlambatan perekonomian Sumut menjadi berada di kisaran 4,3% - 4,7% (yoy) melambat 0,8% dari baseline dalam skenario sedang. Dengan perkembangan terkini, dimana pertumbuhan dunia diperkirakan tumbuh 0,9% (yoy) (BI) serta tiongkok tumbuh hanya 2.3% (World Bank), perekonomian Sumut berpotensi melambat lebih dalam pada kisaran 2,2 – 2,6%(yoy) dalam skenario berat. Dalam kondisi sangatberat, ekonomi sumut dapat turun hingga 1,2 – 1,6% (yoy).

"Seluruh komponen permintaan diprediksi bias kebawah sementara komponen LU utama akan melambat, terutama perdagangan dan pariwisata," ungkapnya.

Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Sumut

Perlambatan terdalam akan dirasakan pada triwulan II 2020 dan akan meningkat pada triwulan berikutnya seiring dengan fase pemulihan akibat Covid-19. Pada kasus Covid-19 perlambatan dirasakan di sektor eksternal maupun domestik, untuk itu dibutuhkan upaya keras untuk menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial melalui anggaran pemerintah.

Tekanan harga di seluruh kota IHK menurun, sambung Wiwiek mengungkapkan pada April 2020, Sumatera Utara alami deflasi. Secara spasial, tekanan harga di seluruh kota IHK menurun. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar -0,71% (mtm), disusul oleh Kota Sibolga (-0,66%;mtm), Kota Pematangsiantar (-0,40%;mtm), dan Kota Medan (-0,28%;mtm). Adapun Kota Padangisdimpuan mencatatakan inflasi terendah se-Indonesia sebesar 0,04% (mtm).

"Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi sumber utama deflasi seiring dengan melimpahnya pasokan cabai merah dari Brastagi, Aceh, dan Deli Serdang serta daging ayam ras dan ikan dencis di tengah daya beli masyarakat yang melemah pada masa pandemi Covid-19. Himbauan social distancing disinyalir menahan minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional dan modern. Di satu sisi, kenaikan harga bawang merah akibat keterbatasan pasokan dari Sumbar serta harga bibit yang tinggi menahan deflasi lebih lanjut," tandasnya.

Tambah Wiwiek menjelaskan salin itu penyumbang Inflasi yakni dari Komoditas Bawang Merah 0.091 %, Buah Naga 0.027 %, Emas Perhiasan 0.025, Gula Pasir 0.023, Pisang 0.019. kemudian penyumbang Deflasi dari Komoditas Cabai Merah -0.147 5%, Daging Ayam Ras -0.096 %, Ikan Dencis -0.093 %, Biaya Pulsa Ponsel -0.084 %, Cabai Rawit -0.037 %.(Red/Van)

Share:
Komentar

Berita Terkini