Iklan KPU Kota Medan

Iklan KPU Kota Medan
Ayo Nyoblos, 09 Desember 2020

Ketua Umum Wanita AJH, Marlina Simanjuntak Desak Polres Deli Serdang Segera Tangkap Pelaku Penganiaya Anak Dibawah Umur

Editor: Irvan
DETEKSI.co - Medan, Merasa laporan penganiayaan yang dialami anak di bawah umur berinisial NSBA (11) yang telah 2 bulan lebih dilaporkan ibu korban Sri Wahyu Ningsih ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan Anak) Sat Reskrim Polresta Deli Serdang hingga sampai saat ini belum ada kepastian hukum.

Merasa laporannya tidak juga ada titik terang, Sri Wahyu Ningsih Warga Desa Dalu X A, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara ini mendatangi Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak (P2KB & P3A) Kabupaten Deli Serdang, Selasa (9/6/2020).

Usai membuat laporan, Darno merupakan Staf P2KB & P3A Kabupaten Deli Serdang ini berjanji akan segera menindaklanjuti laporan korban.

"Kasus ini segera kita tindaklanjuti ke Unit PPA Sat Reskrim Polresta Deli Serdang, semoga pelaku secepatnya ditangkap agar menjadi efek jera dan menjadi pembelajaran terhadap pelaku biar tidak semena-mena melakukan penganiayaan terhadap anak," ujar Darno.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wanita Aliansi Jurnalis Hukum (DPP AJH), Marlina Simanjuntak,SPd mengatakan selaku penerima kuasa atas kasus penganiayaan yang di alami anak Sri Wahyu Ningsih pihaknya akan mengawal kasus tersebut yang saat ini tengah ditangani oleh Unit PPA Sat Reskrim Polresta Deli Serdang, hingga pelaku sampai ditangkap.

Demikian dikatakan Marlina Simanjuntak penganiayaan yang dilakukan terduga pelaku berinisial F alis G warga yang sama telah dilaporkan ke Polresta Deli Serang dengan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor : STTLP/177/IV/SU/RESTA DS tanggal 11 April 2020.

Menurut Marlina Simanjuntak mengatakan kejadian penganiayaan itu berawal ketika korban NSBA dan WP dari rumah hendak Sholat Maghrib ke Mesjid, Namun di tengah jalan jumpa dengan anak F alias G berinisial R yang juga anak dibawah umur. Lalu oleh NSBA menanyakan kepada R mengenai layangan mereka "mana layanganmu itu, mau lihat sebentar" tanya NSBA dengan spontanitas dan nada kesal R menjawab tidak ada. Disitulah terjadi saling ejek mengejek diantara mereka.

Karena suara adzan sudah berkumandang kemudian korban NSBA dan WP bergegas menuju Mesjid, Sementara R melaporkan saling ejek itu kepada ayahnya F alias G.

Naas, belum sampai ke Mesjid, ayah dari R dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter dengan emosinya dan tanpa tanya langsung menyergap korban NSBA dan WP sambil mengatakan "kenapa kalian mengeroyok anakku". lalu oleh NSBA mengatakan kami tidak mengeroyok R Om. Kami hanya menanyakan layang-layangan kami".

Namun ucapan korban NSBA dan WP tidak dihiraukan oleh ayah R. Dengan emosi F alias G langsung menunjang punggung bagian belakang korban NSBA sebanyak 2 kali sehingga korban terpental ke arah parit. Hal sama juga dialami oleh WP, pelaku juga menunjang bagian pantat dan pahanya sebanyak 2 kali.

Walau mereka dianiaya pelaku, namun korban NSBA dan WP tetap melakukan sholat ke Mesjid, sepulang sholat anaknya mengeluh dan menangis dengan tersedu-sedu dan awalnya tidak memberitahukan penganiayaan kepada ibunya Sri Wahyu Ningsih. Lalu ibunya bertanya, "kenapa kalian menangis," oleh WP mengatakan mereka habis dipukul oleh ayah R dan mereka mendapat ditunjang masing-masing sebanyak dua kali.

Kemudian Sri Wahyu Ningsih bertanya kembali apa penyebab kenapa kalian dipukulnya, lalu oleh NSBA menjawab hanya gara-gara menanyakan layangan kepada R, dan disitu mereka terlibat saling ejek dan tidak ada terlibat perkelahian.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi disaksikan oleh salah seorang warga bernama Wagiman (60) dan ia membenarkan penganiayaan itu dilakukan oleh ayah dari R. Namun saksi mengakui kalau tidak tahu menahu apa penyebab peristiwa kenapa orang tua tega memukul anak-anak.

"Sebelum orang tua korban melaporkan peristiwa iti kepada pihak berwajib, orang tua korban menunggu niat baik dari pelaku untuk datang kerumah meminta maaf, karena tidak ada niat baik dari pelaku, akhirnya orang tua korban melaporkan kausus penganiayaan itu ke Polresta Deli Serdang," ungkap Ketua Umum DPP AJH, Marlina Simanjuntak, Rabu (10/6/2020).

Selanjutnya Ketua Umum DPP AJH, Marlina Simanjuntak mengungkapkan anehnya hingga sampai saat ini pihak orang tua korban tidak ada menerima Surat Pemberitahuan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dai unit PPA Sat Reskrim Polresta Deli Serdang.

"Saya mendesak agar penyidik unit PPA Sat Reskrim Polresta Deli Serdang secepatnya menangkap pelaku agar menjadi efek jera dan menjadi pembelajaran terhadap pelaku biar tidak semena-mena melakukan penganiayaan terhadap anak," tegasnya.

Perlu diketahui, sambung Marlina Simanjuntak, bahwa kasus ini adalah Lex specialis derogat legi generali yang artinya aturan hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum.

"Penyidik unit PPA Sat Reskrim Polresta Deli Serdang, harus menerapkan UU PA bukan sanak menerapkan pasal yang bersifat umum (KUHPidana). Berdasarkan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang dituangkan dalam pasal 80 ayat (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan," pungkasnya.(Red)
Share:
Komentar

Berita Terkini