Diduga Janjikan Pengisian Perangkat Desa, Mantan Camat Di Kediri Dilaporkan Polisi

Editor: Irvan
DETEKSI.co - Kediri, Personil Satreskrim Polres Kediri menerima laporan mengenai dugaan kasus penipuan yang dilakukan oleh salah satu

Seoranga mantan Camat Kras Kabupaten Kediri dilaporkan ke Satreskrim Polres Kediri atas kasus dugaan penipuan dengan modus dapat memberikan jabatan yang strategis kepada korbannya.

Mantan Camat tersebut berinisial SH itu diduga memberikan janji jabatan dalam proses pengisian perangkat desa di Kecamatan Kras. Bahkan, korbannya mengalami kerugian material hingga Rp 125 juta.

Kapolres Kediri, AKBP Lukman Cahyono S.I.K melalui Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Gilang Akbar mengatakan, kejadian tersebut berawal pada tahun 2016 lalu seluruh Kades se-Kecamatan Kras diundang oleh SH ke pendopo Kecamatan Kras. Lalu dia menyampaikan kepada Kadesnya  bahwa di Kabupaten Kediri membuka pengisian perangkat desa yang mana di pemerintah desa ada perangkat desa yang kosong.

Selain itu SH juga meminta para Kades untuk mempersiapkan diri, serta menyampaikan kalau Kades punya calon yang akan diajukan supaya dikondisikan.

"Saat itu, tahun 2016, ada lima desa yang akan mengisi perangkat desa yaitu Desa Kanigoro, Desa Kras, Desa Jambean, Desa Pelas, dan Desa Butuh,” tutur AKP Gilang, Selasa (21/7/2020).

AKP Gilang mengungkapkan, lima desa tersebut sudah mensosialisasikan kepada masyarakat dan masuk pada tahapan pendaftaran, namun pada saat itu kegiatan tersebut sempat ditunda pelaksanaanya karena peraturan belum turun. Meskipun sempat ditunda, namun SH menghubungi Kades Kanigoro untuk mempersiapkan diri.

Berdasarkan keterangan Kades Kanigoro kepada personel Satreskrim, SH menyuruh Kades Kanigoro untuk memintakan uang kepada calon yang akan diusung.

“Pertama pelaku meminta uang sebesar Rp 25 juta, oleh Kades Kanigoro uang diserahkan kepada pelaku secara tunai di ruang kerja Camat Kras dan diterima langsung oleh pelaku,” ungkap AKP Gilang.

Kemudian, lanjutnya, beberapa bulan berikutnya SH kembali meminta uang kepada Kades Kanigoro sebesar Rp 50 juta.

“Ini terjadi pada Juni 2016, akhirnya Kades memberikan uang Rp 50 melalui transfer antar bank. Tak selesai sampai di situ, di awal tahun 2017, pelaku kembali meminta kepada Kades uang sebesar Rp 50 juta dan diserahkan secara tunai di ruang Camat Kras,” ujarnya.

Setelah peraturan pelaksanaan pengisian perangkat desa diterima, kata AKP Gilang, kuota satu kecamatan hanya dua desa. Karena kuota tersebut, akhirnya Desa Banjaranyar ditunjuk untuk mengikuti pengisian perangkat desa. Berdasarkan pengakuan Kades Banjaranyar, sebelum pelaksanaan pengisian perangkat desa, SH pernah meminta uang sebesar Rp 600 juta dan permintaan SH dipenuhi.

“Oleh Kades Banjaranyar saat itu, permintaan pelaku dipenuhi dan uang yang diserahkan tersebut uang milik calon perangkat desa yang mengikuti seleksi pengisian perangkat Desa Banjaranyar," ucap AKP Gilang.

Masih kata AKP Gilang, pengakuan dari kedua Kades, sebelum pelaksanaan pengisian perangkat desa pernah diundang ke ruang dinas Camat Kras. SH, selain meminta calon untuk dikondisikan, juga meminta nama-nama calon perangkat desa yang akan direkomendasi sebagai perangkat desa.

Pada saat pelaksanaan pengisian perangkat desa di Kecamatan Kras tahun 2017/2018 lalu yang diikuti Desa Kanigoro dan Desa Banjaranyar, calon yang dijanjikan dan telah menyerahkan uang kepada SH, ternyata tidak ada yang lolos.

"Kades Banjaranyar segera meminta uang Rp 600 juta, uang tersebut dikembalikan,” imbuhnya.

Namun, sambungnya, uang yang diserahkan oleh Kades Kanigoro, sampai saat ini belum dikembalikan oleh SH. Bahkan, SH tidak mengakui pernah menerima uang tersebut, akibatnya Kades Kanigoro mengalami kerugian materi sebesar Rp 125 juta.

“Kerugian ini akibat pelaku menjanjikan akan merekomendasi calon perangkat desa yang diprioritaskan Kades sebagai perangkat desa,” pungkasnya. (DidIk S)
Share:
Komentar

Berita Terkini