Tiga Mahasiswa MAPALA Taklukan Gunun Batee Meucica

Editor: DETEKSI.co author photo
Deteksi.co-Banda Aceh, Tiga orang Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA), asal almamater Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK), Banda Aceh, melakukan Pemantapan materi Manajement perjalanan, Navigasi Darat dan Survival di Bukit Barisan Aceh, Jumat (17/7/2020).

Pinte Tuah mengatakam lewat relisnya kepada Deteksi.co, Tim di lepas pada 11 juli 2020 pukul 15.30 WIB di depan skretariat MAPALA STIK Pada pukul 16.00 WIB Tim menuju Perjalanan ke desa Jantho Baru, kecamatan Kota Jhanto Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Pukul 17.30 WIB tim sudah sampai di DAM BA`E dan mulai mempersiapkan kebutuhan untuk bermalam di kaki gunung gle BA`E sebelum melakukan pendakian keesokan harinya, tim mulai memasak dan mendirikan Bivak untuk bermalam di kaki gunung gle BA`E tepatnya di depan DAM BA`E dengan ketinggian 258 MDPL (Meter di atas permukaan laut).

Tepar pada hari Minggu 12 Juli 2020 Pukul 07.00 WIB tim sudah terbangun, mulai memasak dan mulai bersiap-siap untuk melakukan pendakian ke puncak pertama yaitu gunung gle BA`E, dan tidak lupa pula bedoa sebelum melakukan pendakian untuk keselamatan selama di perjalanan, Tim sampai ke puncak gunung gle BA`E dengan ketinggian 1538 MDPL (Meter di atas permukaan laut) di hari yang sama pukul 19.10 wib.

Suasana pada malam itu, di puncak gunung gle BA`E dingin dan sejuk maklum saja karna suhu di pegunungan, tim langsung mendirikan Bivak untuk peristirahatan dan memasak makan malam sebelum beristirahat".

Keesokan harinya terang Pinte Tuah "Senin 13 juli 2020 pukul 06.30 WIB tim mulai beraktivitas, memasak sarapan pagi, pukul 08.00 wib kemudian packing dan tidak lupa berdoa untuk keselamatan di perjalan, pukul 08.30 wib, tim mulai melanjutkan pendakian ke puncak kedua gunung gle MEUNDOM dengan ketinggian 1800 MDPL ( Meter di atas permukaan laut) suasana pada saat itu di puncak gle MEUNDOM cuaca buruk angin kencang dan badai berbeda dengan puncak gle BAE hanya dingin dan sejuk.

"Sesampainya ke puncak kedua hari yang sama pada pukul 20.00 wib tim mulai beraktivitas seperti biasanya mendirikan Bivak dan memasak. Selasa 14 juli 2020 pukul 08.30 wib tim mulai bergegas mempersiapkan perlengkapan untuk melanjutkan pendakian ke puncak ke tiga yaitu puncak gunung gle MEUTALA dengan ketinggian 2004 MDPL (Meter di atas permukaan laut), dalam perjalanan pendakian tim melihat dari kejauhan puncak MEUTALA berbatu dan sangat terjal seperti tebing tim juga menemukan bekas cakara,terlihat seperti cakaran beruang madu di pepohonan dan kotoran kambing". 

Lanjut Pinte kambing hutan yang berada dijalur pendakian menuju puncak gle MEUTALA, di sini tim mulai kekurangan air bersih dan memutuskan untuk menghemat air. Sampai ke puncak gle MEUTALA di hari yang sama pada pukul 16.30 wib tim memutuskan untuk menginap di peuncak gle MEUTALA dan beraktivitas seperti biasa mendirikan Bivak, memasak dan kemudian istirahat.

"Rabu 15 juli 2020 pukul 08.30 wib setelah beraktivitas seperti biasanya masak dan sarapan tim melanjutkan pendakian ke puncak gunung BATEE MEUCICA di perjalan tim melihat dan mengamati puncak gunung gle TRIENG dan memutuskan untuk singah ke puncak gunung gle TRIENG dengan ketingian 1900 MDPL(Meter di atas permukaan laut) dan beristrihat siang pukul 13.00 wib. sampai dengan pukul 14.00 wib dan melanjutkan pendakian ke gunung BATEE MEUCICA".

"tim mulai kesulitan menemukan sadel atau pertemuan dua titik pada satu pengunungan karna tertutup kabut sehingga membuat tim kelelahan dan cuacapun hujan sehingga mengharuskan tim untuk beristirahat dijalur dan menampung air hujan untuk mendapatkan tambahan air minum di perjalanan, sambil menunggu hujan reda kamipun bercerita dan saling menyemagati satu sama lain ''kekuatan tim terletak pada yang terlemah'' setelah hujan reda dan sadelpun sudah terlihat, pada pukul 14.45 wib.

Tim pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi ke puncak gunung BATEE MEUCICA, dalam perjalanan hujan turun lagi dan kabutpun membatasi jarak pandang tim, di tambah lagi dangan kondisi lapangan dijalur pendakian menuju puncak BATEE MEUCICA terbilang cukup ekstrime, jalur di sebelah kiri jurang dan curam, mengaharuskan tim lebih berhati-hati sehingga memakan waktu lebih lama. pukul 17.00 wib tim memutuskan untuk menginap di jalur pendakian menuju puncak gunung BATEE MEUCICA, saat itu tim bergerak cepat untuk mendirikan Bivak karna tim sudah merasa kedinginan, dan memasak kemudian istirahat, tidur.

"Kamis 16 juli 2020 pukul 08.30 wib setelah packing tim melanjutkan pendakian ke puncak gunung BATEE MEUCCA pada pukul 09.30 wib, tidak jauh dari tempat tim bermalam sekitar 1 km, tim sudah sampei ke puncak gunung BATEE MEUCICA dengan ketinggian 2110 MDPL (Meter di atas permukaan laut) dan melihat tanda puncak gunug BATEE MEUCICA yang terbuat dari plat berwarna biru yang dibuat oleh tim exspedisi dari UKM MAPALA FKIP UNSYIAH pada tahun 2018 lalu, Dikarenakan tim sudah kekurangan air bersih maka tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang melewati puncak punuk dan beristirahat di sana, pukul 12.30 wib. 

"Pada pukul 13.30 tim mulai bergerak cepat melakukan perjalanan menuju jalan pulang ke arah jalan jantho-lamno desa siron krueng, kecamatan kota cot glie kabupaten Aceh Besar, Aceh. Dalam perjalan pukul 16.30 tim memutuskan untuk menginap di jalur menuju jalan pulang".

Jumat 17 juli 2020 pukul 08 30 wib, seperti biasanya setelah sarapan pagi, tim mulai melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan tim mendengar suara senso dan berjumpa salah seorang pekerja ilegal loging, tim memulai untuk berinteraksi dengan pekerja ilegal loging, dari salah satu pekerja ilegal loging mengajak tim untuk beristirat sejenak dan meminum kopi di pondok(jambo) mereka. Sampai pukul 16.00 wib tim meminta pamit dan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke arah jalan jantho-lamno.

Dalam perjalan menuju kampung siron tim meminta tumpangan kepada para pekerja ilegal loging yang membawa kayu menggunakan mobil dam/truk untuk mengantar tim ke tempat yang telah kami tentukan dengan tim posko yang berada di Banda Aceh, tepatnya di jembatan pertama jalan jantho-lamno.

"Pada pukul 19.30 wib tim sudah sampai di lokasi dengan keadaan sehat walafiat dan tidak ada yg kurang satupun dari tim, karna kami selalu diajari dan disemangati oleh abang/senior kami selama di perjalanan "pergi bertiga pulang harus tetap bertiga juga'' kata-kata itu selalu kami ingat di dalam hati kami masing-masing.ti Setelah itu tim tinggal menggu di jemput oleh tim posko yang berada di Banda Aceh". 


"Dalam perjalan ini terhitung selama 6 hari,kami cukup puas dan banyak pelajaran yang dapat kami petik baik dari ALAM (selalu memberi kepada manusia dan tidak pernah meminta imbalan apapun),maupun dari tim tetap kompak,hilangkan ego dan bunuh rasa takut dan masih banyak yang harus kita pelajari lagi.

Harapan kami kepada masyarakat yang tinggal di pingiran hutan lebih peduli dan sadar terhadap lingkungan di sekitarnya dan berperan aktif dalam melestarikam ekosistem hutan mereka", tutup pinte.(Pahmi).
Share:
Komentar

Berita Terkini