Iklan KPU Kota Medan

Iklan KPU Kota Medan
Ayo Nyoblos, 09 Desember 2020

Gadis Asal Nias Trauma Disiksa Pamannya, Aktivis PA Minta Pelaku Ditangkap

Editor: DETEKSI.co author photo

DETEKSI.co - Medan, Kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur terjadi lagi di Kota Medan. Kali ini, korbannya adalah seorang gadis berinisial YZ, berusia 13 tahun yang berasal dari pedalaman Nias, Provinsi Sumatera Utara.

Menurut pengakuan Yusmadi alis Gatot (62), warga yang tinggal di Jalan Mangaan 3 Gang Pribadi, Lingkungan 12, Mabar, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan yang melaporkan kejadian kekerasan tersebut, bahwa YZ datang ke Kota Medan awalnya untuk melanjutkan pendidikan. Namun, setibanya di Medan, bukan pendidikan yang diberikan oleh paman atau ayah angkatnya, ia malah dijadikan pembantu dirumah pamannya hingga akhirnya mengalami penyiksaan disekujur tubuhnya, yang mengakibatkan luka memar seperti diwajah hingga di bagian perutnya.

Hal itu juga dikatakan oleh seorang warga sekitar, Zuhera, yang menemukan YZ (korban) saat tergeletak dengan kondisi lemah didepan rumah warga beberapa waktu lalu.

"Saya lihat dia (YZ) tergeletak dihalaman rumah seorang warga. Kami langsung menolong dan menanyakan apa penyebabnya, Anak perempuan tersebut mengaku kepada warga, sudah 3 tahun ia disiksa atau penganiyaan yang dilakukan oleh Pamannya sendiri, " kata Zuhera

Beberapa lembaga aktivis Perlindungan Anak (PA) ikut memberi advokasi yakni, Solidaritas Generasi Cerdas (SGC) bersama Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) saat dilokasi menyebutkan, kondisi YZ sangat memprihatinkan, sebab, tidak hanya luka memar saja yang dialaminya. Saat ini YZ juga mengalami gangguan psikologi dan butuh perhatian khusus dari pihak-pihak terkait, kata Endang.

"Saat dilakukan pertolongan, terlihat bahwa YZ mengalami luka-luka di pipi sebelah kanan, pinggang memar serta kepala sakit dan hingga saat ini korban mengalami trauma. Anak tersebut saat ini masih diamankan dirumah warga untuk sementara waktu. Kejadian itu terjadi pada hari kamis, 04 September 2020 lalu. Selain dianiaya oleh pamannya, YZ juga dianiaya oleh tante dan anaknya," jelas Endang, Kamis (10/9/2020) saat menindak lanjuti kejadian tersebut bersama tim PATBM Kelurahan Mabar yang bersinergi dengan SGC Sumut yang berkoordinasi dengan PPPA Kota Medan untuk mendapatkan pemulihan sikologi terhadap korban.

"Kami mengecam keras atas perbuatan Penganiyaan tersebut. Meminta agar warga Kelurahan Mabar bersama-sama mengawal jalannya proses hukum," cetus Sugiharty dihadapan Tim Advokasi dan HAM SGC Sumut, Endang Surya dan M. Wilotikto.

Atas kejadian itu, Yusmadi (warga) telah membuat laporan ke Polsek Medan Labuhan, Kota Medan, Minggu (6/9/2020) lalu sekitar pukul 13.30 WIB, dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi, Nomor: STPLP/670/IX/2020/SU/PEL-BLW/SEK-MEDAN LABUHAN.

Mendengar kabar itu, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Arist Merdeka Sirait yang merupakan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia merasa geram dan meminta pihak Kepolisian khususnya Polsek Medan Labuhan segera memproses pengaduan tersebut.

"Pelakunya harus seger ditangkap. Saya rasa kalau sudah ada Laporan Polisi (LP) nya tidak ada alasan untuk Polsek Medan Labuhan untuk tidak menangkap. Segera proses dan tangkap pelakunya," tegas Ketua Komna Perlindungan Anak Indonesia, Kamis (10/9/2020). (End)

Share:
Komentar

Berita Terkini