FW-LSM Minta Kapolda Usut Kasus Penganiayaan Wartawan, Pelaku Diduga Koordinator PETI

Editor: Admin author photo

Deteksi.co - Sintang, Beredar berita terkait tindakan kekerasan terhadap Jurnalis yang menjalankan tugas jurnalistiknya saat meliput kegiatan PETI di Daerah Aliran Sungai (DAS) Melawi tepatnya di Dusun Baning Hilir, Desa Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang pada Rabu (14/04/2021). 

Tindakan kekerasan terhadap wartawan/jurnalis dari media Harian Fajar.com sontak mendapat protes keras dari berbagai kalangan media dan jurnalis, tak terkecuali hal itu menjadi perhatian dari Forum Wartawan dan LSM (FW-LSM) Kalbar, serta mengecam keras perbuatan yang telah dilakukan oleh oknum pekerja sekaligus koordinator PETI berinisial ON. 

Sebagaimana diketahui, dalam menjalankan tugasnya seorang jurnalis dilingdungi Undang-Undang( UU no 40/1999 tentang Pers). Pasal 4 yang berbunyi:

1. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.

2.Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.

3.Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Atas dasar itu, FW_LSM Kalbar mengecam sikap oknum yang telah melakukan tindakan kekerasan terhadap jurnalis yang menjalankan profesinya. hal itu di ungkapkan Sekjen FW-LSM.

" Kami mengecam keras apa yang telah dilakukan oleh oknum pekerja berinisial ON yang telah melakukan tindakan kekerasan, yang mana hal itu adalah pelanggaran terhadap UU no 40 tahun 1999 sebagaimana bunyi pasal 18" Barang siapa dengan sengaja menghalangi atau menghambat pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat 2, dan ayat 3 maka diancam Pidana 2 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah," kata Wan Daly. Minggu(02-04-2021).

Wan Daly Juga menyoroti adanya kegiatan PETI yang terkesan ada pembiaran, dimana kegiatan itu dilakukan tidak jauh dari pusat kota yang bisa terpantau bebas oleh publik. 

FW-LSM meminta pihak Polda Kalbar mengusut tuntas kegiatan PETI yang diduga melibatkan oknum pekerja sebagai koordinator. 

" Kita minta Kapolda beserta jajarannya segera mengusut kegiatan PETI yang terjadi di Baning Kota, yang kita duga ada keterlibatan oknum pekerja sebagai koordinator, kegiatan ini nyaris dekat dengan kota kabupaten yang dapat di pantau oleh publik, kenapa ini seolah ada pembiaran," ujar Sekjen FW-LSM.

Pria yang akrab di sapa kang Wawan itu juga meminta agar pihak Polres Sintang segera memangil dan mengusut  oknum pekerja PETI yang terlibat dalam kekerasan terhadap seorang jurnalis.  

Sebelumnya diketahui dari informasi yang berhasil dihimpun Media ini Berdasarkan keterangan dari Juranalis Harian Fajar.com Abdullah mengatakan, bahwa persoalan tersebut berawal dari masalah rekaman dan video terkait masalah PETI yang ia dokumentasikan dilokasi Sungai Melawi Baning Kota. 

"Tujuan saya ingin konfirmasi kepada ON yang diduga sebagai kordinator PETI di RT 06 Dusun Baning Hilir, desa Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang kalimantan Barat. Saya mengambil data rekaman pukul 12.30.wiba bersama ketua Rt. 06 dan salah satu pekerja PETI berinisial OC di tempat Rt. 06," tutur Abdullah.

Setelah mengambil dokumentasi kemudian Abdullah pulang kerumah kemudian mengirimkan video rekaman tersebut kepada  ON.

"Maksud saya mengirimkan video rekaman tersebut untuk sebagai bahan konfirmasi terkait informasi dari warga inisial OC. Karena dalam keterangan OC mengatakan bahwa ON ini sebagai kordinator pengurus PETI di RT. O6 desa Baning Kota. Kemudian saudara ON bertanya kepada saya maksud video rekaman ini,"lanjut tutur Abdullah.

Namun pembicaraan melalui WhatsApp tidak jelas dan tidak transparan dan tidak ada keterbukaan, kemudian ON mengundang Abdullah kerumahnya untuk  duduk satu meja.

"Kemudian saya datang kerumahnya dengan berpakaian sholat dan kain salah dileher, sampai dirumah saudara ON saya mengucapkan salam namun tidak dijawab mereka. Bahkan tangan saya diludah oleh saudara OC, kemudian oleh OC mendorong dan mencekek saya dengan kain salah yang saya pakai, sedikit pun saya tidak melakukan perlawanan,"cerita Abdullah.

Abdullah merasa heran di undang duduk satu meja namun timbul ada kekerasan yang dilakukan terhadap dirinya. 

"Kuat dugaan saya ini adalah jebakan dan perencanaan tindakan kejahatan menurut saya, dirumah itu ada beberapa orang yaitu inisial ZL, ER, AG, yang ada ditempat kejadian dirumah ON, saya bingung kok mereka ndak ada yang melerai malah mengancam saya, mereka mengancam saya, kalau video rekaman ini tersebarluas maka mereka tidak akan pakai hukum dan undang undang," ujarnya.

"Kita pakai hukum rimba saja," Abdullah menirukan kata ON.

Usai kejadian  itu Abdullah pun pulang kerumah dan pada malamnya ia melaporkan perihal yang dialaminya kepada Dodi  Rt 06 yang  maksudnya untuk menangani kasus tersebut, namun oleh ketua RT diarahkan ke rumah ON. 

"Sampai disitu saya menyampaikan bahwa secara pribadi saya memaafkan tapi secara hukum belum, karna saya seorang jurnalis, maka dari itu saya akan menindak lanjuti terkait kasus kekerasan kepada saya sebagai seorang jurnalis," pungkasnya.

Penulis : Didi/Tim
Share:
Komentar

Berita Terkini